Home / BERITA / Inilah Penyebab Kegalauan PDI-P Memuncak

Inilah Penyebab Kegalauan PDI-P Memuncak

inilah-penyebab-kegalauan-pdi-p-memuncak
Ketum PDIP Megawati saat memberi sambutan Rakernas(suarapemilih.com)

Suarapemilih.com, JAKARTA-Kegalauan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk menentukan siapa calon yang akan diusungnya pada Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang kian memuncak, pasalnya jika ditelisik dari kader PDIP dan idiologi ini ada tiga nama yang disebut-sebut, yakni Risma, Djarot dan Rizal Ramli, Kamis (8/9/2016). Hingga kini partai berlambang banteng moncong putih tersebut tengah menimbang-nimbang memilih yang terbaik dari yang terbaik.

Jika ditelisik dari kader partai PDI-P yang belakangan ini disebut-sebut namanya, maka pilihannya jatuh ke Risma dan Djarot. Tetapi jika ditelisik dari idiologi pembangunan dalam menuju Indonesia yang adil dan makmur yakni Tri Sakti dan Nawacita, maka ada nama lain yang sebulan terakhir ini mulai banyak mendapat simpati dan dukungan dari berbagai kalangan yakni Rizal Ramli,  “sang patriot dan rajawali ngepret”.

Risma sudah menyatakan ketidakinginannya dicalonkan menjadi Cagub DKI, Risma juga sudah terikat janji dengan warga Surabaya untuk menyelesaikan masa tugasnya hingga habis masa jabatannya. Warga Surabaya lebih membutuhkan Risma. Namun, jika Ketua Umum PDI Perjuangan berkehendak Risma menjadi Cagub DKI, maka sebagai kader yang baik, Risma akan taat kepada pimpinan partai untuk diusung menjadi Cagub DKI oleh PDI Perjuangan.

Ini artinya PDI Perjuangan kehilangan Surabaya sebagai kota kedua terbesar di Indonesia yang sudah lama diincar oleh partai-partai besar lainnya, yakni Partai Demokrat dan Golkar. PDI Perjuangan kalah satu kali karena kehilangan Kota Surabaya.

Jika Risma tarung dengan Ahok dan lainnya, Risma belum tentu menang di Pilgub DKI. Jika Risma menang, maka hasilnya hanyalah seri 1-1 yakni menang untuk Jakarta, hilang (kalah) untuk Surabaya. Memang, akan ada yang bilang, kan ada pak Wisnu. Bagi saya, Pak Wisnu bukan kader terbaik PDI Perjuangan untuk dapat mempertahankan kota Surabaya.

Yang tragisnya, bagaimana kalau Risma kalah di Jakarta? Sudah sangat jelas, PDI Perjuangan menjadi kalah dua kali karena kehilangan dua kota terbesar di Indonesia yakni Jakarta dan Surabaya. Ini akan berdampak pada Pemilu 2019. PDI Perjuangan akan terpuruk.

Lantas, bagaimana dengan Djarot? Sepanjang perjalanan menuju pilkada DKI, Djarot tidak berani dengan gagah menyatakan siap menjadi Calon Gubernur DKI yang akan diusung oleh PDI Perjuangan.

Bagaimana dengan Rizal Ramli,” sang patriot dan rajawali ngepret” yang faham Tri Sakti Bung Karno dan konsisten dalam menjalankan Program Nawacita Presiden Jokowi? Wallahualam. Hanya Tuhan dan Ibu Megawati yang tahu.

About suara pemilih cyber team

Check Also

Blusukan Rudi Brengos Di Pasar Sapi Rejosari yang Mangkrak

Salatiga – pedagang pasar rejosari di kagetkan dengan kehadiran pak brengos (agus rudianto) calon walikota …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: