Home / BERITA / Politik Perut Hantui Warga

Politik Perut Hantui Warga

politik perut hantui warga
Ilustrasi politik perut (suarapemilih.com)

Suarapemilih.com, YOGYAKARTA-Memasuki masa tenang sebelum hari pencoblosan pada 9 Desember, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Muhammad menegaskan untuk berhati-hati dan mewaspadai adanya politik perut yang masih menghantui masyarakat untuk mengundang suara pada pilkada serentak, Senin (7/12/2015). Sampai saat ini belum ditemukan jalan keluarnya.

“Bayang-bayang politik uang masih menghantui warga di masa tenang menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada), kebanyakan masih dalam proses. Tapi ada juga yang berproses. Lalu ada juga temuan paslon yang diduga membagikan sembako pada masyarakat,” ujarnya setelah rapat koordinasi akhir, Minggu (6/12/2015).

Politik uang bisa juga disebut politik perut sebab dalam penjabarannya adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pembelian bisa dilakukan menggunakan uang atau barang.

Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) Semarang, misalnya, menyatakan sebanyak 70,2 persen pemilih di Kota Semarang menilai politik uang atau materi dalam pilkada merupakan sesuatu yang wajar. Temuan ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan LPSI di 16 kecamatan di Kota Semarang yang melibatkan 1.250 responden.

“Hasil survei ini menunjukan masih kuatnya praktik politik transaksional baik di parpol maupun masyarakat. Ini sudah darurat karena uang menjadi segalanya,” kata Yulianto saat menjadi pembicara sarasehan bertajuk Optimalisasi Potensi Media Massa dalam Pilkada 2015 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah, Selasa (22/9/ 2015).Mr

About suara pemilih cyber team

Check Also

Deklarasi Revitalisasi ISRI

Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) Dibangkitkan Kembali Marhaenis Yogyakarta

YOGYAKARTA, SUARAPEMILIH.COM – Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) akan dibangkitkan kembali oleh kalangan sarjana Marhaenis Yogyakarta. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: